Ku Ada Disini

•June 2, 2008 • 1 Comment

Sore ini hujan kembali turun…
Sama seperti 6 tahun yang lalu…

Dinginnya terasa bekukan rasa sakit dari luka hati ini,
hingga bisa buatku tersenyum sesaat hingga hujan ini mereda.

Anginnya yang berhembus sejuk membuatku terpejam ringan dan
hadirkan kau disini dan tersenyum indah menatapku.

Suara untaian titik-titik hujan yang menderu lembut,
membuatku rentangkan tangan dan hadirkan kau disini peluk hangatkan jiwaku.

Seperti luka yang tak kunjung pulih seumur hidupku,
rasa sakitnya tak kunjung berkurang…
Mugkin, hingga ku menutup mata di hari akhirku kelak..

Sama seperti 6 tahun yang lalu….

Dalam guyuran hujan,
kumendengar suara tawamu yang riang,
membuatku tetap tersenyum dalam tangis.

kumelihat indahnya senyummu yang hangat,
membuatku kian perih memandangnya.

kurasakan tangannya yang lembut membasuh wajahku yang kian sendu…
menggenggam tanganku..
menatap lembut mataku seolah berkata..
“Aku mencintaimu…”

kutundukkan kepala angkuh ini dalam dinginnya guyuran hujan…
tersenyum lirih dengan teteskan air mata yang terbaur hujan
dan berkata lirih…
“Ku ada disini..dan aku mencintaimu…”

Rachmat Hidayat Al Anshar
Untukmu dewi kecilku yang terus tersenyum indah dalam hidupku…

Hikmah besar masa skripsiku…

•February 12, 2008 • 2 Comments

Hari ini sama seperti hari” sebelumnya, mat masih harus selesaikan tanggung jawab ini. Terkadang begitu banyak hal yang terlintas ditengah terasa lamanya skripsi ini terselesaikan. Apa yang sudah selama ini mat lakukan? kenapa bisa terasa lama? kenapa semua terasa sulit? kenapa semua terasa sangat berat untuk dilalui? dan, kapan semuanya bisa berakhir? dan begitu banyak pertanyaan lainnya terus bergema didalam hati dan pikiran mat. Apa mat terlalu muluk harapkan suatu pencapaian yang tinggi? karena mereka selalu bilang “buatnya yang gampang aja biar bisa cepat selesai..” aau “nda usah muluk muluk lah, kenapa kerjakan yang sulit, padahal yang mudah saja banyak dan diperbolehkan…”…

Waktu terasa kian lama ketika semuanya tak kunjung berakhir, hingga akhirnya mat sadari satu hal yang selama ini terlewat dan tak terperhatikan. Ternyata Alloh jawab dan kabulkan doa mat selama ini. Untuk tanggung jawab skripsi ini, mat hanya berdoa agar Alloh sudi meridhoi mat bisa dapatkan hasil terbaik yang bisa mat capai, walaupun dengan topik sesulit ini. Mat sadari kenapa semua begitu sulit, kenapa semua berjalan terasa lambat, kenapa semua tidak mudah dijalani adalah karena target pencapain mat yang tinggi dan karena minimnya kemampuan kelayakan mat untuk mencapai itu. Semua menjadi lama, karena mat harus bangun kelayakan itu, hingga Alloh tersenyum dan katakan.. “ya, kamu kini sudah layak…”. Sejalan dengan proses pencapaian ini, Alloh ajarkan mat banyak hal, bahkan sangat banyak yang justru nda pernah mat duga bahwa pelajaran” hidup seperti ini mat dapatkan selama masa penyusunan skripsi.

Mereka yang berjalan cepat dalam penyelesaian skripsi karena semua berjalan sesuai dengan keinginannya, bahkan mungkin tidak menyadari dirinya ditutup dari kemungkinan pencapaian kemampuan yang jauh lebih luas, lebih baik, dan lebih tinggi. Mereka yang hanya puas kerjakan yang kecil dan berbangga karena selesaikan dengan baik dan cepat bahkan mungkin tidak sadar bahwa dirinya sudah mengecilkan potensinya karena tidak coba raih yang besar dan bisa dikerjakan dengan kemampuannya. Mereka yang tersenyum lirih karena sulitnya mencapai sesuatu yang besar akan jauh lebih berdamai karena ia usahakan semaksimal mungkin kemampuannya untuk sesutu yang besar. Ia tanpa sadar pelajari begitu banyak hal yang tidak diketahui sebelumnya karena ia diharuskan Alloh untuk melayakkan diri untuk bisa pantas mendapatkan impian besarnya. Jangan bersedih lagi mat, jangan kecewakan dirimu lagi dengan merasa kamu tidak cukup layak kerjakan semua ini, karena kamu berhak dapatkan yang besar. Mereka bisa katakan apapun yang mereka suka, apapun yang mereka pahami, tapi ingatlah satu hal…
nasib baikmu ada ditanganmu sendiri, untuk itu, bekerjalah sebaik mungkin…
berdoalah sedamai mungkin…
bermimpilah setinggi mungkin…
Dan temukan Alloh akan terus tersenyum indah dan bisikkan sesuatu dalam hatimu yang tenang…
“kamu berhak untuk sesuatu yang besar…”

Bersyukur dan berbahagialah…

•December 31, 2007 • 2 Comments

Suatu ketika di ruang kelas sekolah menengah, terjadi suatu percakapan yang menarik. Pak Guru, dengan buku di tangannya, menanyakan sesuatu kepada murid-muridnya di depan kelas. Guru tersbut bertanya “Anak-anak, kalian sudah hampir memasuki saat-saat terakhir bersekolah di sini. Setelah 3 tahun, pencapaian terbesar apa yang membuat kalian berbahagia ? Adakah hal-hal besar yang kalian peroleh selama ini ?”

Murid-murid tampak saling pandang keheranan. Terdengar suara lagi dari Pak Guru, ” Ya, ceritakanlah satu hal terbesar yang terjadi dalam hidup kalian selama kalian bersekolah disini ?” Lagi-lagi semua murid saling pandang, hingga kemudian tangan Pak Guru itu menunjuk pada seorang murid. ” Nah, kamu yang berkacamata, adakah hal besar yang kamu temui ?
Berbagilah dengan teman-temanmu …”

Sesaat, murid itu terdiam… dan terlontarlah sebuah kisah dari si murid, ” Seminggu yang lalu, adalah saat-saat yang sangat besar buat saya. Orang tua saya, baru saja membelikan sebuah motor, persis seperti yang saya impikan selama ini.” Matanya berbinar, tubuhnya bergetar merasakan betapa ia sangat menjiwai setiap kalimatnya. ” Motor sport dengan lampu yang berkilat, pasti tak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan itu !”

Pak Guru tersenyum mendengarnya. Tangannya menunjuk beberapa murid lainnya. Maka, terdengarlah beragam cerita dari murid-murid yang hadir. Ada anak yang baru saja mendapatkan sebuah mobil. Ada pula yang baru dapat melewatkan liburan di luar negeri. Sementara, ada murid yang bercerita tentang keberhasilannya mendaki gunung. Semuanya bercerita tentang hal-hal besar yang mereka temui dan mereka dapatkan.

Hampir semua murid telah bercerita, hingga terdengar suara dari arah sudut belakang kelas. “Pak Guru … Pak, saya belum bercerita.” Rupanya, ada seorang anak di pojok kanan yang luput dipanggil. Matanya berbinar bahkan sebelum ia bercerita, membuat sang Guru penasaran kisah apa yang dimiliki anak ini. “Maaf, silahkan, ayo berbagi dengan kami semua…” ujar Pak Guru kepada murid itu. “Apa hal terbesar yang kamu dapatkan ?” ujar Pak Guru mengulang pertanyaannya kembali.

” Keberhasilan terbesar buat saya, dan juga buat keluarga saya adalah…
saat nama keluarga kami tercantum dalam Buku Telepon yang baru terbit 3 hari yang lalu.”

Kisah itu membuat kelas sesaat menjadi senyap, hingga akhirnya terdengar tawa-tawa kecil yang memenuhi ruangan kelas itu. Ada yang tersenyum simpul, terkikik-kikik, bahkan tertawa terbahak mendengar kisah aneh semacam itu. Dari sudut kelas, ada yang berkomentar, ” Ha ? Saya sudah sejak lahir menemukan nama keluarga saya di Buku Telepon. Buku Telepon ? Betapa menyedihkannya keluargamu … hahaha …”

Dari sudut lain, ada pula yang menimpali, ” Apa tak ada hal besar lain yang kamu dapat selain hal yang lumrah semacam
itu ?” Lagi-lagi terdengar derai-derai tawa kecil yang masih memenuhi ruangan. Pak Guru berusaha menengahi situasi ini, sambil mengangkat tangan. ” Tenang.. tenang.. sebentar anak-anak, kita belum mendengar cerita selanjutnya. Silahkan teruskan, Nak …”

Anak itu pun kembali angkat bicara.” Ya, memang itulah kebahagiaan terbesar yang pernah saya dapatkan.Dulu, Papa saya bukanlah orang baik-baik. Karenanya, kami sering berpindah-pindah rumah. Kami tak pernah menetap, karena selalu merasa di kejar polisi.” Matanya tampak menerawang. Ada bias pantulan cermin dari kedua bola mata anak itu, dan ia melanjutkan. ” Tapi, kini Papa telah berubah. Dia telah mau menjadi Papa yang baik buat keluarga kami. Sayang, semua itu tidak butuh waktu dan usaha. Tak pernah ada bank dan yayasan yang mau memberikan pinjaman modal untuknya bekerja. Hingga setahun lalu, ada seseorang yang rela meminjamkan modal buat Papa saya. Dan kini, Papa berhasil. Bukan hanya itu, Papa juga membeli sebuah rumah kecil buat kami. Dan kami tak perlu berpindah-pindah lagi.”

” Tahukah kalian, apa artinya kalau nama keluarga saya ada di Buku Telepon ? Itu artinya, saya tak perlu lagi merasa takut setiap malam dibangunkan Papa untuk terus berlari menghindari kejaran polisi. Itu artinya, saya tak perlu lagi kehilangan teman-teman yang saya sayangi. Itu juga berarti, saya tak harus tidur di dalam mobil setiap malam yang
dingin. Dan itu artinya, saya, dan juga keluarga saya, adalah sama derajatnya dengan keluarga-keluarga lainnya.”

Matanya kembali menerawang. Ada bulir bening yang mengalir di wajahnya yang sendu. ” Itu artinya, akan ada harapan-harapan baru yang saya dapatkan nanti …”

Kelas terdiam. Pak Guru tersenyum haru dan matanya pun berkaca-kaca. Murid-murid tertunduk. Pak Guru berjalan ke arahnya di sudut belakang kelas, sejenak menatap wajah muridnya… dan memeluk hangat dirinya. Mereka baru saja menyaksikan sebuah fragmen tentang kehidupan. Mereka juga baru saja mendapatkan hikmah tentang pencapaian besar, dan kebahagiaan yang tulus.

Mereka juga belajar satu hal :
” Bersyukurlah dan berbahagialah setiap kali kita mendengar keberhasilan
orang lain. Sekecil apapun … Sebesar apapun …”

.

Terima kasih
Rachmat Hidayat Al Anshar